LINIMASA SI GOMBAR
Perjalanan kereta uap legendaris Priangan: dari rel yang dibangun Staatsspoorwegen abad ke-19, kejayaan lokomotif mallet raksasa, masa mati suri, hingga rel yang kembali hidup.
Garut Terhubung Kereta Api
Staatsspoorwegen meresmikan jalur Bandung–Cibatu beserta cabang Cibatu–Garut. Untuk pertama kalinya kawasan Priangan Timur ini terhubung jalur rel.
Lokomotif Mallet "Si Gombar" Berdinas
Lokomotif uap mallet raksasa seri DD52 dan CC50 — buatan Werkspoor (Belanda) serta Hanomag & Hartmann (Jerman) — mulai berdinas di tanjakan Priangan. Warga Garut menjulukinya "Si Gombar"; DD5208 menjadi unit yang paling dikenang.
Enam Perjalanan per Hari
Lintas Cibatu–Garut tercatat melayani enam kali perjalanan kereta setiap harinya dari dan ke Garut — denyut ekonomi kota mulai berdetak lewat rel.
Charlie Chaplin Singgah
Komedian dunia Charlie Chaplin tercatat pernah singgah di Stasiun Cibatu (1927) dan mengunjungi Garut (1935). Terpesona keindahannya, ia menginap di Hotel Ngamplang — Garut pun dikenal sebagai "Mooi Garut".
Jalur Diteruskan ke Cikajang
Pembangunan lintas menembus pegunungan rampung — disebut kepala proyek R.H.J. Spanjaard sebagai salah satu yang tersulit di zamannya. Stasiun Cikajang (+1.246 mdpl) menjadi stasiun tertinggi di Indonesia kala itu, mengangkut teh dari perkebunan Giriwas, Cisaruni, Papandayan, dan Darajat.
Masa Perang & Perjuangan
Di masa pendudukan Jepang, sebagian lintas dibongkar untuk kebutuhan perang. Jalur bertahan dan kembali melayani setelah kemerdekaan.
Puncak Kejayaan
Jalur pegunungan Cikajang–Garut mencapai masa emasnya. Keindahan lintas dan perkasa-nya Si Gombar menarik pencinta kereta api dari berbagai penjuru dunia.
Depo Uap Cibatu Ditutup
Bengkel lokomotif uap Cibatu — yang dulu mempekerjakan ratusan orang — ditutup karena dianggap ketinggalan zaman. Era lokomotif uap mulai memudar.
Letusan Galunggung & Segmen Cikajang Tutup
Erupsi Gunung Galunggung merusak sarana-prasarana jalur; abu vulkanik mengganggu pasokan air lokomotif uap. Segmen Garut–Cikajang resmi ditutup (September 1982).
Perjalanan Terakhir Si Gombar
KA Cibatu–Garut menjalani dinas terakhirnya. Si Gombar — sang mallet terbesar di Indonesia — pensiun. Seluruh unit DD52 kemudian dirucat; tak satu pun wujud aslinya tersisa di museum.
Reaktivasi Digagas
Dirut PT KAI meninjau langsung jejak jalur mati (September 2018). Pembangunan kembali dimulai Mei 2019, diperkuat KM 50 Tahun 2020 tentang penugasan reaktivasi lintas Cibatu–Garut sepanjang 19,3 km.
Jalur Cibatu–Garut Beroperasi Kembali
Setelah 39 tahun mati suri, kereta kembali berderap ke Garut. Reaktivasi diresmikan Menteri Perhubungan dan Menteri BUMN di Stasiun Garut (24 Maret 2022), membangkitkan lagi pariwisata Priangan.
"Si Gombar" Pulang ke Garut
Miniatur lokomotif uap DD5208 Si Gombar dipajang di gedung lama Stasiun Garut — simbol sejarah, edukasi, dan kebanggaan masyarakat yang terus dijaga kelestariannya.
Harapan Menuju Cikajang
Reaktivasi lanjutan Garut–Cikajang menjadi harapan berikutnya — menghidupkan kembali stasiun tertinggi itu sebagai bagian dari kemajuan transportasi dan pariwisata Priangan Timur.
"Dari rel masa lalu menuju masa depan, Si Gombar tetap menjadi bagian tak terlupakan dari sejarah Garut."
Sumber teks: Republika (2023), Bisnis.com (2022), Liputan6 (2025), CNBC Indonesia (2019),
Kementerian Perhubungan/dephub.go.id (2022), Pikiran-Rakyat/Kabar Garut (2025),
Ensiklopedia P2K Stekom. Tahun-tahun tertentu antar sumber dapat sedikit berbeda penyebutan.
Gambar: ilustrasi bernuansa sejarah yang dibuat secara digital (AI), bukan foto arsip asli.